Nikmati promo presale 12.12 dengan diskon 10% + 25% sebelum promo puncak!

Tag: #AdminSekolahNet

shape
shape
shape
shape
shape
shape
shape
shape
Standard

Mengapa Sekolah Membutuhkan Aplikasi Administrasi Sekolah?

Dalam era digital ini, teknologi telah menjadi bagian terpenting bagi kehidupan kita sehari-hari, termasuk dalam dunia pendidikan.  Pada kenyataannya di zaman yang serba cnaggih ini banyak hal yang telah berubah. Yang awalnya semua masih manual dan peru banyak kertas serta tenaga kini telah lebih efisien dan praktis. Perubahan itu telah dirasakan di semua lini tak terkecuali juga dunia Pendidikan. Semua jenjang mulai dari TK, SD, SMP, SMA berlomba-lomba mewujudkan digitalisasi dalam pembelajaran di lingkungan sekolah.   Salah satu inovasi teknologi yang semakin banyak diadopsi oleh institusi pendidikan adalah aplikasi administrasi sekolah. Kini telah hadir software AminSekolah.net untuk membantu mengelola administrasi sekolah Anda. Software ini memiliki program unggulan untuk pencatatan, khususnya pencatatan dalam bidang administrasi. Fungsi lainnya yaitu dapat mengelola sistem operasional sekolah degan mudah. Sehingga tak perlu kertas berserakan dan data tercecer hingga tertukar.   Mengapa Membutuhkan Aplikasi Administrasi Sekolah? Adanya aplikasi bukan untuk tren semata, melainkan kebutuhan yang mendesak untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas operasional sekolah. Berikut adalah beberapa alasan mengapa sekolah membutuhkan aplikasi administrasi: 1. Efisiensi Waktu dan Tenaga Aplikasi administrasi sekolah dapat mengoptimasi bergbagai tugas rutin yang sebelumnya memakan banyak waktu dan tenaga. Mulai dari pencatatan absensi, pengelolaan data siswa, hingga pembuatan laporan akademik, semuanya dpat dilakukan dengan lebih cepat dan akurat. Hal ini memungkinkan staf atau bagian tata usaha administrasi untuk fokus pada tugas-tugas yang lebig strategis. 2. Kemudahan Akses Informasi Dengan aplikasi administrasi sekolah, semua data siswa, guru, dan staf, dapat diakses dengan mudah dan cepat. Informasi penting seperti jadwal pembelajaran, hasil ujian, dan catatan kehadiran/presensi dapat diperoleh dengan mudah dalam hitungan detik. Ini tidak hanya mempermudah pekerjaan administratif, tetapi juga membantu dalam pengambilan kepurusan yang lebih cepat dan tepat. 3. Pengelolaan Data yang Lebih Baik Aplikasi administrasi sekolah menyediakan platform tepusat untuk mengelola semua data sekolah. Hal ini mengurangi risiko kehilangan data atau kesalahan dalam pencatatan. Data yang terpusat juga memudahkan dalam analisis dan pelaporan, sehingga sekolah dapat memantau perkembangan siswa dan kinerja keseluruhan dengan lebih efektif. Baca juga: Mau PPDB Online Sekolah Anda Berjalan Lancar? Simak Tips Berikut Ini 4. Komunikasi yang Lebih Efektif Aplikasi administrasi dilengkapi denganfitur komunikasi yang memudahkan interaksi antara guru, siswa, dan orang tua. Pengumuman penting, pemberitahuan jadwal ujian, atau informasi lainnya dapat disampaikan secara langsung melalui notofikasi WA ataupun notifikasi Telegram, mengurangi kemungkinan informasi tidak tersampaikan atau terlambat.  5. Kaamanan Data yang Lebih Terjamin Dengan adanya data yang tersimpan di cloud akan menjaga keamanan lebih terjamin. Aplikasi ini biasanya dilengkapi dengan fitur keamanan seperti enkripsi data, kontrol akses, dan pencadangan data secara rutin. Hal ini mengurangi risiko kebocoran informasi atau kehilangan data akibat kesalahan teknis. 6. Penghematan Biaya Operasional 7. Peningkatan Transparansi dan Akuntabilitas Keunggulan Software AdminSekolah Notifikasi WhatsApp Orang tua siswa mendapatkan notifikasi Pembayaran, Tagihan, dan Tabungan melalui WhatsApp. Payment Gateway Wali siswa dapat melakukan pembayaran melalui Virtual Account, Transfer Bank, QRIS, Indomaret, atau Alfamart. Presensi Guru/Pegawai Guru/Pegawai cukup melakukan presensi dengan selfie dan otomatis terhubung dengan sistem GPS. Presensi Siswa Presensi siswa dapat dilakukan secara online oleh guru. Baca juga: Aplikasi Sekolah Solusi Manajemen Data Sekolah  Android Wali Murid Wali murid dapat memantau perkembangan anaknya langsung dari smartphone. Jurnal Otomatis Tanpa perlu lagi melakukan pembukuan secara tradisional, mulai dari spp, gaji, tabungan, dll. Keamanan Terjamin Keamanan data terjamin setara dengan bank dan memiliki auto backup jika terjadi error. Multi User & Admin Software Administrasi Sekolah dapat digunakan oleh banyak orang secara bersamaan yang mempunyai hak akses. Bagaimana tertarik menggunakan Software Administrasi ini? Segera kunjungi laman resminya di https://adminsekolah.net Atau coba gratis demonya di http://demo.adminsekolah.net Info Selengkapnya: Telp/WA : 0812-3364-0003  

Standard

Persiapan Guru Sebelum Masuk Semester Baru

Setiap memasuki semester baru, tentu Bapak dan Ibu guru akan sibuk karena persiapan awal pembelajaran di semester baru. Tidak hanya menyiapkan materi pembelajaran, tetapi juga dokumen administrasi pendukung yang berkaitan dengan kegiatan belajar-mengajar. Nah, hal apa saja sih yang perlu disiapkan Bapak dan Ibu guru di awal semester baru? Baca selengkapnya di bawah ini. Evaluasi dan Refleksi Semester Sebelumnya Sebelum kelas terakhir di semester sebelumnya, baiknya jika Bapak dan Ibu Guru membuat selebaran kritik dan saran yang akan diisi oleh murid sebagai bahan evaluasi dan refleksi. Jika Bapak dan Ibu guru belum sempat untuk membuat selebaran itu, maka bisa dengan mengingat kembali apa yang sudah dilakukan di semester sebelumnya. Contohnya seperti menanyakan hal-hal seperti apakah sudah berhasil menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan? Apakah proses pembelajaran sudah berjalan dua arah? Sudahkan murid-murid aktif di kelas? Evaluasi proses pembelajaran dengan menanyakan hal-hal tersebut. Lalu, Bapak dan Ibu guru bisa mencari apa yang perlu ditingkatkan dan dikembangkan dari proses pembelajaran di semester sebelumnya. Buat perubahan yang diperlukan berdasarkan hal-hal yang sudah dievaluasi dan direfleksi di atas. Baca Juga : Penerapan Kurikulum Merdeka dalam Konteks Sekolah Mengenal Karakter Siswa yang Akan Diajar Sebelum memasuki kelas di awal semester, pastinya Bapak dan Ibu guru sudah mendapat jadwal mengajar. Jadwal ini bisa menjadi patokan kita untuk mencari terlebih dahulu karakter-karakter tiap kelas yang akan Bapak dan Ibu ajar. Mengenal karakter siswa merupakan salah satu cara untuk menjaga kondisi di kelas tetap kondusif. Dengan mengetahui kepribadian dan hal yang membuat mereka minati dapat membantu Bapak dan Ibu guru menentukan alur pembelajaran. Ketika mengenal karakter tiap siswa, maka akan lebih mudah untuk memahami mereka. Bapak dan Ibu guru dapat meluangkan waktu semisal 5 menit selama beberapa waktu di awal semester baru untuk menemui siswa dan ajak siswa untuk mengobrol untuk mengetahui karakter siswa. Hal ini juga dapat menumbuhkan ikatan saling percaya satu sama lain untuk membantu mengatur suasana pembelajaran di kelas menjadi lebih mudah. Menyiapkan Program Ajar, Bahan Ajar, dan Media Ajar Selain program yang sudah dibuat selama 1 tahun pembelajaran, guru juga harus menyusun program persemester berdasarkan program tahunan tersebut. Program ajar per semester ini merupakan penjabaran dari program tahunan yang nantinya alokasi kegiatan dan waktu lebih dijabarkan kembali. Setelah program ajar per semester telah terbuat, saatnya Bapak dan Ibu guru menyiapkan bahan ajar yang akan disampaikan ketika pembelajaran. Bahan ajar terdiri dari dua jenis, yaitu bahan ajar cetak dan non cetak. Bahan ajar cetak dapat berupa buku paket, modul, lembar kerja siswa, brosur, leaflet, dan sebagainya. Sementara bahan ajar non cetak dapat berupa audio, video, dan multimedia. Baca Juga : Apa itu KKTP? Istilah yang Harus Diketahui di Kurikulum Merdeka Jika program dan bahan ajar sudah terbuat, Bapak dan Ibu guru perlu merencakan media pembelajaran yang akan dipakai. Bisa dijabarkan sekaligus pada materi keberapa dan media pembelajaran apa yang digunakan. Ini akan lebih mengefisienkan kerja Bapak dan Ibu guru saat semester sudah dimulai. Jadi, tidak perlu memikirkan kembali media apa yang digunakan, Bapak dan Ibu guru tinggal menyiapkan. Buat Aturan di Dalam Kelas Ini penting dilakukan oleh Bapak dan Ibu guru dalam mendisiplinkan siswa di kelas. Buat aturan selama pembelajaran langsung. Baiknya jika peraturan di dalam kelas berdasar pada kesepakatan guru dan siswa. Sifat aturan ini bukan untuk mengekang siswa melainkan sebagai media pembelajaran agar siswa dapat belajar menepati atau menjaga komitmen bersama. Jika dirasa peraturan-peraturan yang sudah disepakati perlu dicetak makan bisa dicetak. Atau jika siswa yang diajar masih dalam cakup sekolah dasar Bapak dan Ibu guru dapat menggubah peraturan tersebut menjadi nyanyian. Jadi siswa akan lebih menangkapnya. Meningkatkan Kompetensi Diri Bapak dan Ibu guru juga perlu untuk meningkatkan kompetensi diri untuk mengikuti perkembangan pembelajaran saat ini. Banyak cara yang dapat dilakukan seperti mengikuti pelatihan, seminar, atau kursus yang revelan dengan kebutuhan Bapak dan Ibu guru. Sekarang ini banyak pihak yang menawarkan pelatihan, seminar, atau kursus secara gratis melalui media sosial. Atau media YouTube juga menjadi salah satu acuan untuk meningkatkan kompetensi diri seorang guru. Semisal Bapak dan Ibu guru ingin membuat pembelajaran yang menarik dengan Canva atau Quiziz, sudah banyak YouTuber-YouTuber yang membahas hal tersebut. Bisa Bapak dan Ibu guru coba ya Itu tadi kelima persiapan guru sebelum masuk semester baru. Dengan mengikuti kelima hal di atas, Bapak dan Ibu guru akan lebih percaya diri untuk memulai pembelajaran di awal semester.   ================================================================================   Ingin mengelola kegiatan administrasi dan keuangan sekolah dengan sistem digital? Coba Demonya secara GRATIS di demo.adminsekolah.net atau Hubungi admin kami untuk agendakan Zoom di 0812-3364-0003  

Standard

Penerapan Kurikulum Merdeka dalam Konteks Sekolah

Pengertian Kurikulum Merdeka Kurikulum merdeka adalah sistem pendidikan yang menawarkan beragam pengembangan kurikuler di dalamnya. Dalam sistem ini, siswa diberi waktu yang luas untuk mengeksplorasi konsep pembelajaran dan mengembangkan bakatnya sendiri. Dalam konteks ini, guru memiliki kebebasan untuk memilih perangkat atau media pembelajaran yang sesuai. Mereka dapat menyesuaikan pilihan ini dengan minat dan kebutuhan belajar siswa. Kurikulum merdeka ini sejalan dengan prinsip merdeka belajar, di mana siswa tidak terpaksa belajar materi yang tidak menarik bagi mereka. Setiap siswa diberi kesempatan untuk belajar sesuai dengan minat dan kebutuhan pribadinya. Pembelajaran dalam kurikulum merdeka ini berbasis pada proyek dan studi kasus. Peserta didik mempelajari isu-isu yang ada di lingkungannya, kemudian membuat proyek untuk bisa memberikan solusi atas isu-isu tersebut. Ini membuat pembelajaran lebih menyenangkan. Peserta didik bisa terlibat aktif dalam proses pembelajaran. Ini yang menjadi kelebihan kurikulum merdeka, aktif dan relevan. Baca juga : Apa itu KKTP? Istilah yang Harus Diketahui di Kurikulum Merdeka Kurikulum merdeka ini memiliki karakteristik tertentu, yaitu : Pembelajaran berbasis proyek Pembelajaran pada kurikulum ini adalah pembelajaran berbasis proyek. Tujuannya adalah untuk memperkuat karakter peserta didik sesuai dengan profil pelajar Pancasila. Fokus pada materi esensial Kurikulum merdeka ini berfokus pada materi esensial. Ini membuat siswa bisa punya banyak waktu belajar secara kontekstual. Siswa jadi lebih banyak bernalar dan kreatif dalam proses pembelajaran. Fleksibilitas bagi guru Guru bisa fleksibel melakukan pembelajaran yang terdiferensiasi sesuai dengan kemampuan dan capaian belajar masing-masing muridnya. Guru juga bisa leluasa melakukan penyesuaian secara kontekstual dan berdasarkan muatan lokal. Implementasi Kurikulum Merdeka Kemendikbudristek memberikan kesempatan selama dua tahun ini kepada sekolah untuk mempelajari lebih lanjut tentang kurikulum merdeka. Penerapannya disesuaikan dengan kemampuan sekolah masing-masing. Agar pelaksanaan implementasi kurikulum merdeka berjalan baik, tentu pihak sekolah harus siap terlebih dahulu. Kesiapan yang harus ada di sekolah. Kepala sekolah harus siap mengawal pelaksanaan kurikulum merdeka ini, mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi.  Guru bertugas sebagai fasilitator yang memberikan kesempatan peserta didiknya untuk belajar sesuai minat dan bakatnya. Guru bisa memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk membuat rencana belajarnya sendiri. Dalam kurikulum merdeka, setiap peserta didik bebas belajar sesuai minat dan bakatnya. Jadi, merekalah yang membuat rencana belajar. Berikan kebebasan kepada setiap peserta didik untuk memilih metode belajarnya. Peserta didik juga diberikan kebebasan memilih sumber belajarnya sendiri. Jangan lupa untuk memfasilitasi metode belajar setiap peserta didik sesuai fase belajarnya. Lakukan pembelajaran yang sesuai dengan capaian hasil belajar masing-masing peserta didik. Di akhir periode pembelajaran, ajak peserta didik membuat proyek. Lakukan pembelajaran berbasis proyek. Dorong peserta didik untuk membuat proyek dari isu-isu yang ada disekitarnya dan berdasarkan apa yang telah dipelajari selama proses pembelajaran. Lakukan refleksi setiap selesai pembelajaran. Refleksi belajar adalah bagian penting dalam kurikulum merdeka ini. Melalui refleksi belajar ini, peserta didik akan tahu sejauh mana kemampuannya. Peserta didik akan tahu kemampuan apa yang bisa dipertahankan. Dan kemampuan apa yang belum dikuasai. Refleksi bisa menjadi acuan untuk pembelajaran berikutnya. Agar, pada proses pembelajaran berikutnya, peserta didik bisa mendapatkan hasil yang lebih baik dari sebelumnya. Sumber: Kejarcita Itu tadi implementasi dari kurikulum merdeka di sekolah. Semoga bermanfaat 🙂 ================================================================================

Standard

Tim adminsekolah mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1445 H

Tim (adminsekolah) by Indoweb Grub mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1445 H Taqabbalallahu minna wa minkum Minal ‘Aidzin Wal Faidzin Mohon Maaf Lahir & Batin Semoga amal ibadah di bulan Ramadhan diterima oleh Allah SWT dan jadikan bulan Syawal ini sebagai awal kita dalam meningkatkan dan memperbaiki ibadah. Semoga kita dipertemukan kembali dengan bulan suci Ramadhan tahun depan. Aamiin

Standard

Perbandingan Kurikulum Merdeka Belajar dan Kurikulum 13 (K-13)

Kurikulum merdeka belajar (KMB) adalah inisiatif pendidikan yang diperkenalkan oleh Kemendikbudristek Indonesia. Diperkenalkan sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan menyesuaikan diri dengan perkembangan global. Kemendikbudristek mengeluarkan Kurikulum Merdeka untuk mengatasi krisis pembelajaran pasca pandemi COVID-19 mulai dirancang untuk diimplementasikan pada sekolah-sekolah yang sudah siap. Kondisi pembelajaran  pasca dilanda pandemi COVID-19 perlu menjadi pertimbangan dalam mengembangkan kurikulum, yang paling menonjol adalah Kurikulum Merdeka sebagai langkah pemerintah untuk menghindari krisis pendidikan akibat pandemi. Sebelum adanya Kurikulum Merdeka, Kurikulum 13 (K-13)  yang menjadi rujukan Pendidikan Nasional saat ini yang sepenuhnya mendorong pembelajaran berpusat pada siswa.  Kurikulum Merdeka menekankan pembelajaran berbasis kompetensi, yang menekankan pada pengembangan keterampilan dan coping skill siswa dalam menghadapi tantangan di masa depan. Hal ini dicapai dengan memberikan bimbingan di kelas mengenai keterampilan praktis, seperti keterampilan komunikasi, keterampilan pemecahan masalah, dan keterampilan kemampuan beradaptasi. Perbedaan antara Kurikulum 13 (K-13) dan Kurikulum Merdeka Belajar mencerminkan evolusi dalam pendidikan Indonesia. Sementara K-13 lebih terstruktur dengan pendekatan kompetensi, Kurikulum Merdeka Belajar memberikan lebih banyak kebebasan dan fleksibilitas bagi siswa. Masing-masing memiliki tujuan dan karakteristiknya sendiri, dan pilihan antara keduanya tergantung pada kebutuhan dan visi pendidikan yang diinginkan bagi para siswa Indonesia. Berikut ini perbedaan dari Kurikulum Merdeka Belajar dan k13: Prinsip Utama dari Kurikulum Kurikulum Merdeka Belajar Mendorong kemandirian dan keberagaman peserta didik dalam proses belajar. Fokus pada pembelajaran berbasis proyek. Menekankan pada pembelajaran yang relevan dengan kehidupan nyata. Mendorong pengembangan karakter dan soft skills. Mengintegrasikan teknologi dalam pembelajaran. Fleksibilitas dalam pemilihan mata pelajaran. Memberikan keleluasaan kepada sekolah dalam menyusun kurikulum sesuai kebutuhan lokal. Kurikulum 13 (K-13) Relevansi dan Kontekstual menyesuaikan dengan kebutuhan dan konteks lokal peserta didik Pembelajaran Aktif mendorong peserta didik menjadi mandiri Pendekatan Tematik, menyatukan konsep-konsep dalam tema-tema yang lebih besar Pengembangan Karakter berfokus pada pembentukan karakter positif peserta didik Berorientasi pada Hasil dan Kompetensi Penilaian Beragam Pengembangan Profesional Guru, mendorong guru untuk berperan sebagai fasilitator dan pembimbing Struktur Kurikulum Kurikulum Merdeka Belajar Mata Pelajaran Wajib dan Pilihan: Terdapat keseimbangan antara mata pelajaran wajib dan pilihan untuk memberikan variasi pada kurikulum. Pembelajaran Daring dan Luring: Menggabungkan pembelajaran online dan offline untuk meningkatkan fleksibilitas. KTSP yang Lebih Fleksibel: Pengembangan kurikulum tingkat satuan pendidikan untuk memberikan fleksibilitas lebih kepada sekolah.   Baca juga: Kurikulum Merdeka di SMA: Kenali Karakteristik dan Strukturnya   Kurikulum 13 (K13) Mata Pelajaran Wajib dan Muatan Lokal: Terdiri dari mata pelajaran wajib yang melibatkan berbagai disiplin ilmu dan muatan lokal untuk memperkuat identitas lokal. Pendekatan Tematik: Menggunakan pendekatan tematik dalam pembelajaran untuk mengintegrasikan berbagai konsep. Kurikulum Peningkatan Kualitas Guru  Kurikulum Merdeka Belajar Peningkatan kualitas guru merupakan aspek penting dalam implementasi Kurikulum Merdeka Belajar  Pelatihan dan Pengembangan: Guru mendapatkan pelatihan untuk mendukung perubahan pendekatan pembelajaran. Peran Guru Sebagai Fasilitator: Guru diharapkan menjadi fasilitator dan pembimbing dalam pembelajaran. Kurikulum 13 (K-13) Memberikan dukungan dan pelatihan bagi guru untuk meningkatkan keterampilan dan pemahaman mereka. Mendorong guru untuk berperan sebagai fasilitator dan pembimbing. Kurikulum Pendidikan Karakter Pendidikan karakter menjadi fokus utama dalam Kurikulum 2013 (K-13) di Indonesia. Pembentukan Karakter: Fokus pada pembentukan karakter melalui pendidikan agama dan moral. Pengembangan Karakter Positif: Menekankan pengembangan karakter positif pada peserta didik. Pengembangan Kemampuan Sosial: Membangun kemampuan sosial peserta didik seperti empati, komunikasi efektif, dan kepemimpinan. Kurikulum Penilaian Kurikulum Merdeka Belajar Penilaian Berbasis Kompetensi: Fokus pada pengukuran kompetensi peserta didik. Penggunaan Portofolio dan Proyek: Implementasi penilaian melalui portofolio dan proyek. Kurikulum 13 (K-13) Sistem Penilaian Beragam: Menggunakan berbagai bentuk penilaian, termasuk ujian nasional. Penilaian Kompetensi dan Sikap: Memberikan penilaian terhadap kompetensi dan sikap peserta didik. Tujuan dari Kurikulum Merdeka adalah untuk memperkuat karakter dan moral siswa, sementara tujuan dari K13 adalah untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan kemampuan siswa dalam berbagai bidang. Berikut tabel perbedaan Kurikulum Merdeka dan Kurikulum 13 (K-13) Tabel Perbedaan Kurikulum Merdeka Belajar dengan Kurikulum 13 Aspek Kurikulum Merdeka Belajar (KMB) Kurikulum 2013 (K-13) Fokus Pembelajaran Pembelajaran berbasis proyek Pendekatan tematik Prinsip Pembelajaran Kemandirian, keberagaman, karakter Pembentukan karakter, moral Struktur Kurikulum Fleksibel, KTSP lebih terbuka Tematik, muatan lokal Penggunaan Teknologi Mengintegrasikan teknologi Pemanfaatan teknologi Penilaian Berbasis kompetensi, portofolio Beragam, ujian nasional Koneksi dengan Industri Kolaborasi dengan dunia industri Tidak terlalu menekankan Peningkatan Kualitas Guru Pelatihan dan pengembangan guru Pembinaan karakter guru Perbedaan dari Kurikulum Merdeka dengan Kurikulum 13 (K-13) mulai dari pendektan pembelajran yang berbeda menekankan pembelajaran berbasis proyek, kemandirian, dan keberagaman sedangkan K-13 menonjolkan pendekatan tematik dengan fokus pada pembentukan karakter dan moral peserta didik, dan struktur kurikulum yang lebih terstandar. Implementasi dan efektivitas kedua kurikulum ini dapat terus berubah dan berkembang seiring waktu. Bagaimana pun Pemerintah dan Kemendikbudristek berusaha sebaik mungkin untuk mencerdaskan generasi bangsa. Dengan memuat kurikulum sebagai seperangkat rencana pendidikan perlu dikembangkan secara dinamis sesuai dengan tuntutan dan perubahan yang terjadi di masyarakat sebagai suatu konsep yang harus mampu menjawab semua tantangan yang ada di mana kurikulum diterapkan.   Ingin mengelola kegiatan administrasi dan keuangan sekolah dengan sistem digital? Coba Demonya secara GRATIS di demo.adminsekolah.net atau  Hubungi admin kami untuk agendakan Zoom di 0812-3364-0003

Standard

Kurikulum Merdeka di SMA: Kenali Karakteristik dan Strukturnya

Mulai tahun ajaran 2022/2023 mulai dikenalkan dengan kurikulum baru yang dikeluarkan oleh Kementrian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi yaitu “Kurikulum Merdeka”. Kemendikbudristek memaparkan bahwa Kurikulum Merdeka memberikan keleluasaan pada pendidik untuk menciptakan pembelajaran bekualitas. Yang diharapkan bisa sesuai dengan kebutuhan dan lingkungan belajar peserta didik. Pelaksanaan Kurikulum Merdeka ini adalah pilihan, maka setiap sekolah mempunyai pilihan untuk melaksanakannya atau tidak. Konsep “Kurikulum Merdeka” mungkin dapat diartikan sebagai upaya untuk memberikan kebebasan lebih kepada sekolah atau guru dalam merancang kurikulum sesuai dengan kebutuhan dan kondisi lokal. Pergeseran ke arah kurikulum yang lebih fleksibel dan relevan dengan kebutuhan masyarakat dapat menjadi suatu langkah untuk meningkatkan efektivitas pendidikan. Kurikulum Merdeka memiliki beberapa karakteristik yaitu pengembangan soft skill dan karakter melalui projek penguatan profil pelajar pancasila. Diharapkan siswa memiliki  kemampuan untuk memecahkan masalah. Karakteristik selanjutnya yaitu fokus pada materi esensial, relevan, dan mendalam sehingga ada waktu cukup untuk membangun kreativitas dan inovasi. Diharapkan untuk peserta didik mampu mencapai kompetensi dasar seperti literasi dan numerasi. Pembelajaran yang fleksibel memberikan keleluasaan bagi guru untuk melakukan pemberian materi sesuai dengan tahapan pencapaian perkembangan masing-masing peserta didik.   baca juga: Istilah-Istilah dalam Kurikulum Merdeka yang Wajib Diketahui Pengajar   Diharapkan dengan adanya kurikulum baru ini, seluruh sekolah di Indonesia bisa mmeberikan siswa kebebasan untuk mengembangkan bakat, minat, dna kemampuan yang dimiliki. Selaiin itu, Kurikulum Merdeka juga memberikan kebebasan kepada guru/pengajar dengan memilih perangkat ajar sehingga dapat disesuaikan dengan kebutuhan belajar dan minat siswa. Penerapan Kurikulum Merdeka ternyata memiliki banyak keunggulan. Keunggulan yang pertama adalah lebih sederhana dan mendalam. Dikatakan lebih sederhana karena lebih fokus pada materi yang esensial dan juga pengembangan kompetensi peserta didik pada fasenya. Kurikulum ini dianggap lebih merdeka. Ini dikarenakan sudah tidak ada program peminatan IPA, IPS atau bahasa. Peserta didik memiliki kebebasan untuk memilih mata pelajaran sesuai dengan bakat, minat dan aspirasinya. Beberapa prinsip umum yang dapat dicakup dalam struktur Kurikulum Merdeka melibatkan: Pada umumnya, konsep “Kurikulum Merdeka” menekankan fleksibilitas dan kebebasan dalam merancang struktur kurikulum. Meskipun implementasinya mungkin berbeda di setiap institusi. Kurikulum Merdeka SMA sendiri yaitu kurikulum yang diterapkan pada jenjang pendidikan SMA dengan kegiatan belajar mengajar yang lebih fleksibel, mulai dari segi alokasi waktu hingga materi pelajaran, tapi tetap berfokus pada materi esensial, pengembangan karakter, dan kompetensi peserta didik. Fleksibilitas: Memberikan keleluasaan kepada sekolah, guru, dan siswa untuk memilih atau merancang materi pelajaran sesuai dengan kebutuhan lokal dan kondisi sekolah. Memungkinkan adaptasi kurikulum untuk mencakup perubahan-perubahan dalam dunia pendidikan dan masyarakat. Integrasi Mata Pelajaran: Mendorong pendekatan lintas mata pelajaran untuk merangsang pemikiran kreatif dan pemecahan masalah. Menyatukan berbagai bidang studi untuk menciptakan pemahaman yang holistik. Keterampilan Hidup: Menekankan pengembangan keterampilan praktis yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, seperti keterampilan komunikasi, keterampilan kolaborasi, dan literasi digital. Mengintegrasikan pembelajaran berbasis proyek atau pembelajaran berbasis masalah untuk meningkatkan keterampilan praktis. Pemahaman Holistik: Mengintegrasikan aspek-aspek pendidikan karakter, etika, dan nilai-nilai moral ke dalam kurikulum. Memperhatikan perkembangan seluruh aspek peserta didik, termasuk aspek sosial, emosional, dan fisik. Kemitraan dengan Masyarakat: Mendorong keterlibatan dan partisipasi masyarakat dalam proses pembelajaran. Mengintegrasikan pengetahuan lokal dan kebijakan pendidikan dengan kebutuhan masyarakat setempat. Evaluasi yang Holistik: Menilai bukan hanya berdasarkan ujian tertulis, tetapi juga melibatkan penilaian keterampilan, proyek, dan portofolio. Mempertimbangkan perkembangan peserta didik secara menyeluruh, termasuk aspek karakter dan keterampilan non-kognitif.   Struktur Kurikulum Merdeka SMA terbagi atas dua fase, yaitu fase E untuk kelas X dan fase F untuk kelas XI dan XII.  Struktur Kurikulum Merdeka SMA Kelas X (Fase E) Pada awal kurikulum, mata pelajaran IPA dibagi menjadi tiga kategori: biologi, kimia, dan biologi. Namun dalam Kurikulum Merdeka, pembelajaran bahasa IPA tidak dianggap sebagai pembelajaran bahasa yang lebih terspesialisasi. Hal serupa juga terjadi di kelas IPS. Meskipun demikian, Kemendikbud tetap menyediakan lingkungan yang mendukung di sekolah agar siswa dapat mengembangkan keterampilan pemecahan masalah yang tepat dalam memahami bagaimana materi pelajaran disusun. Pendekatan yang dapat dilakukan pihak sekolah adalah sebagai berikut: Mengintegrasikan muatan mata pelajaran IPA dan IPS. Mengajarkan muatan mata pelajaran IPA dan IPS secara bergantian dalam blok waktu terpisah. Mengajarkan muatan pelajaran IPA dan IPS secara paralel dengan Jam Pelajaran (JP) terpisah antara satu mata pelajaran dengan lainnya. Selain itu, guru juga perlu membuat pembelajaran inkuiri yang mengintegrasikan muatan pelajaran IPA dan IPS bila memilih pendekatan yang ketiga ini.  Struktur Kurikulum Merdeka SMA Kelas XI dan XII (Fase F) Pada fase F untuk kelas XI dan XII, struktur mata pelajaran dibagi menjadi lima kelompok utama, yaitu:  Kelompok Mata Pelajaran Umum Semua siswa SMA wajib mengikuti kelompok mata pelajaran umum ini. Kelompok Mata Pelajaran MIPA MIPA terdiri dari Matematika, Fisika, Kimia, Biologi, dan Informatika. Setiap sekolah wajib menyediakan paling sedikit tiga mata pelajaran dalam kelompok ini. Kelompok Mata Pelajaran IPS IPS terdiri dari Ekonomi, Antropologi, Geografi, dan Sosiologi. Sama seperti kelompok MIPA, setiap sekolah wajib menyediakan paling sedikit tiga mata pelajaran dalam kelompok ini. Kelompok Mata Pelajaran Bahasa dan Budaya Kelompok mata pelajaran ini bersifat pilihan. Itu artinya, sekolah bisa memilih untuk membuka kelompok mata pelajaran Bahasa dan Budaya atau tidak sesuai dengan ketersediaan SDM di sekolah. Kelompok Vokasi dan Prakarya Kelompok mata pelajaran Vokasi dan Prakarya juga bersifat pilihan. Sekolah bisa mengadakan mata pelajaran ini atau tidak, tergantung dengan ketersediaan SDM di sekolah.    Penting untuk dicatat bahwa struktur kurikulum merdeka dapat sangat bervariasi tergantung pada konteks dan tujuan pendidikan suatu negara atau institusi. Implementasi yang berhasil biasanya melibatkan kolaborasi yang erat antara pihak-pihak terkait, termasuk pemerintah, lembaga pendidikan, guru, dan masyarakat.   Ingin mengelola kegiatan administrasi dan keuangan sekolah dengan sistem digital? Coba Demonya secara GRATIS di demo.adminsekolah.net atau  Hubungi admin kami untuk agendakan Zoom di 0812-3364-0003

Standard

Cara Kepala Sekolah Menyelesaikan Konflik

Kepala sekolah memiliki peran sebagai pemimpin di sekolah sebagai pengambil keputusan dalam pengelolaan sekolah. Kepala sekolah dihadapkan kondisi dan masalah yang mengharuskan pengambilan keputusan terbaik dalam rangka pengelolaan sekolah efektif dan efisien.  Strategi Manajemen Konflik Strategi manajemen konflik dibutuhkan untuk memecahkan konflik yang dan menemukan pemecahannya berupa solusi sebagai bentuk pengoptimalan organisasi. Peran kepala sekolah dalam menyelesaikan suatu konflik tergantung pada pandangan yang dipakai oleh kepala sekolah dalam menyelesaikan suatu konflik. Hal ini bergantung pada pemimpin organisasi, apakah memiliki pandangan tradisional, behavioral, atau pandangan interaksi dalam memandang organisasi yang dipimpinnya (Soetopo,2012:77). Konflik yang terjadi di sekolah perlu dikelola dengan baik oleh kepala sekolah agar menjadi potensi untuk mengefektifkan organisasi. Menurut Thoha (1995), mengemukakan strategi manajemen konflik secara umum sebagai berikut, 1) strategi menang-kalah, 2) strategi kalah-kalah, dan 3) strategi menang-menang. Dengan menggunakan strategi menang-kalah, satu pihak menang dan satu pihak kalah, termasuk di dalamnya menggunakan wewenang atau kekuasaan untuk menekan slah satu pihak. Bisa jadi, pihak yang kalah akan bertingkah laku non-produktif, kurang aktif, dan tidak mengidentifikasikan dirinya dengan tujuan organisasi. Strategi kalah-kalah berarti semua pihak yang berkonflik menjadi kalah. Strategi ini dapat berupa kompromi (keduanya sama-sama berkorban atas kepentingannya), dan arbitrase (menggunakan pihak ketiga). Kemudian, strategi menang-menang yaitu konflik dipecahkan melalui metode “problem solving” atau pemecahan masalah (Soetopo, 2012:277). Kepala sekolah sebagai pemimpin di sekolah dalam menghadapi konflik yang terjadi di sekolah dapat mempertimbangkan berbagai strategi manajemen konflik yang ada disesuaikan dengan kondisi konflik yang sedang dihadapi. Kepala sekolah perlu berpikir positif dalam menyelesaikan suatu konflik dan strategi manajemen konflik menjadi solusi untuk membantu kepala sekolah menyelesaikan konflik di sekolah. Menurut Soetopo (2012:277), suatu hal yang perlu mendapat perhatian dan dianjurkan adalah mulailah dari sikap pasif menuju ke orientasi aktif, dan sangat bergantung pada tingkat kematangan pihak-pihak yang mengalami konflik. Perlu peran kepala sekolah untuk memiliki power merubah perilaku individu  yang dipimpinnya melalui otoritas sebagai seorang pemimpin di sekolah agar dapat menerapkan strategi manajemen konflik yang tepat dalam menyelesaikan konflik yang terjadi di sekolah. Prinsip-Prinsip Pelaksanaan Manajemen Konflik Ada beberapa prinsip yang dapat digunakan oleh kepala sekolah dalam menyeesaikan suatu konflik yang terjadi di sekolah. Perlakukanlah secara wajar dan alamiah artinya konflik yang timbul dalam penyelenggaraan satuan pendidikan adalah sebagai sesuatu yang wajar dan alamiah. Konflik kini menjadi bagian yang tak terpisahkan dari organisasi, tak perlu dihindari tetapi harus dihadapi pimpinan melalui manajemen konflik. Oleh karena itu pelaksanaan manajemen konflik perlu dilakukan secara wajar dan alamiah sebagaimana pelaksanaan manajemen bidang lainnya (Soetopo,2012:282). Pandanglah konflik sebagai dinamisator organisasi Pandanglah bahwa organisasi tanpa konflik berarti diam, statis, dan tidak mencapai kemajuan yang diharapkan. Namun demikian, konflik yang ada harus ditata sedemikian rupa agar dinamika yang terjadi benar-benar dapat menjadi sesuatu yang positif untuk menghasilkan perubahan sekaligus mendukung perkembangan dan pencapaian tujuan pendidikan (Soetopo,2012:283). Prinsip yang menuntut peran kepala sekolah untuk melihat konflik yang terjadi adalah suatu dinamika perubahan yang terjadi di sekolah dan harus dihadapi dengan strategi yang tepat untuk meningkatkan produktifitas sumber daya manusia yang terlibat dalam pengelolaan sekolah guna mencapai tujuan yang telah ditetapkan oleh sekolah.   Baca Juga: 10 Cara Kepala Sekolah Meningkatkan Mutu Pendidikan   Media pengujian kepemimpinan Kapabilitas dan kepemimpinan yang dimiliki oleh kepala sekolah diuji oleh terjadinya konflik yang terjadi di sekolah. Sejauhmana kepala sekolah mampu mengelola dan mengambil keputusan yang dianggap paling tepat dalam menyelesaikan suatu konflik serta mengukur sejauhmana kemampuan sekolah dalam menerapkan manajemen konflik. Kepemimpinan tidak hanya diuji ketika membawa anggota mencapai tujuan berdasarkan rutinitas tugas formal belaka. Kepemimpinan yang bersangkutan akan lebih diuji ketika menghadapi konflik. Melalui manajemen konflik, dirinya akan memiliki kepemimpinan yang dapat diandalkan untuk membawa roda organisasi secara dinamis positif dalam mencapai tujuan di masa mendatang (Soetopo,2012:283). Fleksibilitas tinggi artinya strategi manajemen konflik yang digunakan para pemimpin adalah fleksibel. Pemilihan penggunaan strategi dimaksud sangat bergantung pada, 1) jenis, materi konflik, dan sumber penyebabnya, 2) karakteristik pihak-pihak yang berkonflik, 3) sumber daya yang dimiliki dan mendukung, 4) kultur masyarakat dan iklim organisasi, 5) antisipasi dampak konflik, 6) intensitas dan keluasan konflik (Soetopo,2012:283). Inilah yang perlu diperhatikan oleh kepala sekolah sebagai perannya seorang pemimpin di sekolah. Menyelesaikan konflik dan mengelola konflik dengan baik agar pengelolaan sekolah dapat menjadi lebih baik. Langkah-Langkah Dalam Manajemen Konflik Langkah-langkah dalam manajemen konflik yang harus dilakukan oleh kepala sekolah adalah sebagai berikut: 1) perencanaan analisis konflik, langkah ini dimaksudkan untuk mendefinisikan atau menentukan konflik apa yang timbul dalam penyelenggaraan satuan pendidikan. Pemimpin pendidikan dapat melakukannya setiap saat ketika ada indikasi konflik. Pemimpin pendidikan pada langkah ini harus dapat menentukan sumber penyebabnya. Faktor-faktor yang mempengaruhinya, jenis-jenisnya, dan keterlibatan pihak-pihak yang berkonflik. Apabila hal tersebut semuanya jelas, akhirnya konflik yang sesungguhnya dapat dirumuskan secara jelas dan tegas, 2) evaluasi konflik, evaluasi konflik adalah suatu upaya untuk menentukan kualitas suatu konflik yang telah dirumuskan. Kualitas suatu konflik dapat ditinjau dari dua segi yaitu intensitas dan keluasannya. Keduanya saling berkaitan satu sama lain, 3) Pemilihan strategi konflik sebagaimana berikut: pahamilah beberapa prinsip dalam pelaksanaan manajemen konflik, berdasarkan prinsip-prinsip diatas pilihlah di antara strategi manajemen konflik yang dipilih, laksanakan strategi manajemen konflik yang dipilih, evaluasilah pelaksanaan strategi  manajemen konflik yang dipilih tersebut untuk mengetahui keberhasilannya, strategi yang telah dipilih dapat dipertahankan bila menunjukkan hasil yang baik, tetapi bila hasilnya tidak atau kurang baik maka perlu dipilihkan strategi lain secara berkelanjutan (Soetopo, 2012:285). Itulah cara kepala sekolah dalam menyelesaikan konflik. Kemudian, bagaimana kepala sekolah mengetahui bahwa manajemen konflik tersebut berhasil? Kriteria Keberhasilan Manajemen Konflik Manajemen konflik yang diterapkan oleh kepala sekolah dalam menyelesaikan suatu konflik dapat diukur oleh beberapa kriteria. Kriteria keberhasilan manajemen konflik menjadi tolok ukur keberhasilan kepala sekolah dalam mengelola konflik dengan baik. Manajemen konflik yang dilakukan oleh para manajer atau pemimpin dapat dikatakan berhasil apabila memenuhi beberapa kriteria sebagai berikut:  1) Kemampuan membuat perencanaan analisis konflik dimana perencanaan analisis konflik yang baik harus menunjukkan deskripsi fenomena konflik, identifikasi konflik, rumusan konflik yang sesungguhnya secara jelas dan tegas, 2) Kemampuan melakukan evaluasi konflik dimana ukuran yang dapat dipakai adalah rendah-tingginya intensitas timbulnya suatu konflik, luas-tidaknya cakupan suatu konflik, penentuan kualitas konflik (ringan/kecil), sedang/menengah, atau besar/berat), penentuan penyelesaian konflik berdasarkan prioritas,  3) kemampuan memilih strategi manajemen konflik (Soetopo,2012:285). Kepala

Standard

Aplikasi Sekolah Solusi Manajemen Data Sekolah

Administrator sekolah sering menghadapi sejumlah tantangan dalam pengolahan data, mengingat jumlah dan keragaman informasi yang harus mereka kelola. Seperti data sekolah, data siswa, data pegawai, data keuangan, data presensi, data inventaris, dan data-data lainnya. Beberapa Masalah Umum yang Dihadapi Administrator Integrasi Sistem Banyak sekolah menggunakan berbagai sistem untuk keperluan yang berbeda-beda, seperti sistem manajemen siswa, sistem keuangan, dan lain-lain. Menyatukan data dari sistem-sistem ini untuk mendapatkan pandangan yang holistik seringkali bisa menjadi tugas yang rumit. Keamanan Data Keamanan data menjadi kekhawatiran utama. Informasi pribadi siswa dan staf sekolah harus dijaga dengan ketat untuk melindungi privasi dan mencegah akses yang tidak sah. Ketidakkonsistenan Data Data yang tidak konsisten atau tidak terstandarisasi dapat menyulitkan analisis dan pelaporan. Administrasi sekolah perlu memastikan bahwa data yang dikumpulkan sesuai dengan standar tertentu. Keterbatasan Sumber Daya Sekolah sering menghadapi keterbatasan sumber daya, baik itu dari segi keuangan maupun personel. Ini bisa membatasi kemampuan mereka untuk menginvestasikan dalam teknologi yang diperlukan atau untuk mempekerjakan personel yang dapat mengelola data dengan efektif. Ketersediaan Infrastruktur IT yang Tidak Memadai Infrastruktur IT yang kurang memadai dapat menjadi hambatan. Ini mencakup konektivitas internet yang lambat, perangkat keras yang usang, atau kekurangan perangkat lunak yang dibutuhkan.   Baca Juga: Mulai Atur Keuangan Sekolah secara Efektif dengan Laporan Keuangan Sederhana   Pembaruan dan Pemeliharaan Sistem Pemeliharaan dan pembaruan sistem perangkat lunak dan perangkat keras merupakan aspek penting dalam pengelolaan data. Mengelola pembaruan ini tanpa mengganggu operasional sekolah bisa menjadi tantangan tersendiri. Mengatasi tantangan-tantangan ini memerlukan perencanaan yang baik, investasi dalam pelatihan dan sumber daya, serta kebijakan yang jelas terkait dengan pengelolaan data. Untuk mengatasi masalah-masalah di atas lembaga sekolah dapat menggunakan aplikasi sekolah yang dapat mengatasi malasah di atas dalam satu sistem.   Aplikasi sekolah Membantu Menyelesaikan Masalah Administrasi Manajemen Data Tersimpan dengan Baik Data-data sekolah seperti data sekolah, data siswa, data pegawai, data keuangan, data presensi tersimpah dan terolah dengan baik di sistem aplikasi sekolah.Tidak perlu menggunakan aplikasi yang berbeda-beda karena aplikasi ini mencakup semua manajemen data sekolah.  Anda tidak perlu khawatir data hilang karena semua data tersimpat di cloud sehingga bisa dibuka kapan saja dan dimana saja menggunakan jaringan internet. Konsistensi Data Adanya standarisasi dalam data keuangan sehingga memudahkan dalam pembuatan laporan. Seperti akun biaya, pos bayar, dan jenis bayar akan tersetting oleh sistem. Bendahara atau admin dapat memasukkan data dengan mudah dan jenis pembayaran dapat terkelompok sesuai akun biaya, pos bayarnya, dan jenis bayarnya. Pelayanan Afters Sales  Aplikasi Sekolah menyediakan after sales yang dapat membantu lembaga sekolah untuk mengatasinya keterbatasan SDM, infrastruktur, dan pemeliharaan sistem. Akan diadakan pelatihan aplikasi sebanyak 3x secara gratis melalui Zoom Meeting, disini SDM yang akan dibimbing mengoperasikan aplikasi. Apabila selama penggunaan dirasa ada yang dibingungkan, tim aplikasi siap membantu Anda. Selama berlangganan akan ada full customer support yang membantu Anda mengatasi kendala dalam pengoperasian aplikasi. Aplikasi ini tidak hanya dibuka di PC ataupun laptop, semisal lembaga memiliki keterbatasan perangkat dan jaringan. Aplikasi ini dapat dioperasikan di tab maupun handphone dan dapat diakses menggunakan data seluler sehingga tidak ada kata “Tidak Ada Perangkat yang Mendukung”.   Tertarik untuk mengetahui lebih lengkap terkait Aplikasi Sekolah?  Coba demonya langsung di demo.adminsekolah.net  atau  Hubungi admin kami untuk agendakan Zoom di 0812-3364-0003

Standard

Kebutuhan Guru dalam Mengajar

Tidak dapat dipungkiri bahwa guru yang profesional selalu menyiapkan diri untuk mengajar muridnya dengan baik. Mulai dari menyiapkan materi yang diajarkan, media pembelajaran yang digunakan, hingga merencakan bagaimana pembelajaran di kelas dapat berjalan dengan lancar.  Berikut ini beberapa hal Kebutuhan Guru dalam Mengajar yang harus disiapkan, diantaranya:   Mempersiapkan bahan yang akan diajarkan Sebelumnya guru sudah membuat RPP atau Rencana Pelaksanaan Pembelajaran, sehingga memudahkan untuk mengetahui materi apa yang akan diajarkan.    Langkah selanjutnya adalah menyusun materi tersebut kedalam beberapa tahap pembelajaran agar mudah dipahami oleh siswa. Kemudian, siapkan informasi tambahan untuk mendukung materi tersebut. Seperti mengaitkan materi yang diajarkan kedalam peristiwa sehari-hari.   Mempersiapkan media pembelajaran yang akan digunakan Untuk membuat pembelajaran lebih menarik perhatian siswa. Guru bisa menggunakan media pembelajaran yang kreatif seperti  menggunakan media visual seperti presentasi, diagram, atau video untuk menjelaskan konsep. Guru juga dapat memanfaatkan teknologi seperti platform pembelajaran daring atau aplikasi pendidikan. Media pembelajaran diharapkan mampu siswa dalam menangkan materi yang diajarkan. Saat ini banyak sekali platform yang dapat membantu guru dalam menyiapkan media pembelajaran yang kreatif. Seperti canva, quizziz, YouTube, dan platform lainnya.   Baca Juga: Platform Merdeka Mengajar: Mudahkan Pendidik Menigkatkan Kualitas Pembelajaran   Mempersiapkan pertanyaan dan arahan untuk merangsang siswa aktif belajar Dalam kurikulum merdeka ini, siswa ditunjukan aktif dalam pembelajaran. Bukan hanya guru yang menjelaskan tetapi siswa dituntut untuk dapat memecahkan masalahan dari paparan yang disampaikan, kemudian guru menjelaskan apa yang belum tersampaikan oleh siswa. Jangan gunakan pertanyaan dengan jawaban “Ya” atau “Tidak”. Tetapi lebih kembangkan pertanyaan seperti.  Pertanyaan Analisis: “Bagaimana Anda akan menganalisis situasi ini dari sudut pandang yang berbeda?” “Apa konsep dasar yang mendasari permasalahan ini?”   Pertanyaan Evaluasi: “Menurut Anda, apa kelebihan dan kekurangan solusi ini?” “Bagaimana Anda menilai keefektifan langkah-langkah yang diambil dalam penelitian ini?”   Pertanyaan Sintesis: “Bisakah Anda menggabungkan ide-ide ini untuk menciptakan solusi yang inovatif?” “Bagaimana Anda dapat mengintegrasikan berbagai konsep menjadi suatu kesimpulan?”   Pertanyaan Pemecahan Masalah: “Apa langkah konkret yang akan Anda ambil untuk mengatasi masalah ini?” “Bagaimana Anda akan mendekati masalah ini dari sudut pandang pemecahan masalah?”   Pertanyaan Komparatif: “Bandingkan dan kontraskan pendekatan A dan B dalam menanggapi situasi ini.” “Apa perbedaan mendasar antara dua teori ini?”   Pertanyaan Berbasis Bukti: “Apa bukti yang mendukung argumen Anda?” “Bagaimana data ini mendukung atau menentang klaim tersebut?”   Pertanyaan Berbasis Nilai: “Apa nilai-nilai atau prinsip-prinsip yang mendasari pendapat Anda tentang isu ini?” “Apakah ada pertimbangan etis yang harus dipertimbangkan dalam situasi ini?”   Pertanyaan Reflektif: “Bagaimana pengalaman ini mempengaruhi pandangan Anda tentang konsep ini?” “Apa yang dapat dipelajari dari situasi ini?”   Pertanyaan Tentang Konsekuensi: “Apa konsekuensi jangka panjang dari keputusan ini?” “Bagaimana tindakan ini dapat memengaruhi berbagai pihak terkait?”   Pertanyaan Tentang Alternatif: “Apakah ada pendekatan alternatif yang dapat diambil untuk mencapai hasil yang sama?” “Bagaimana langkah ini berbeda dari alternatif yang mungkin?” Pertanyaan-pertanyaan ini tidak hanya memicu pemikiran kritis, tetapi juga mendorong siswa untuk mengembangkan keterampilan berpikir analitis, evaluatif, dan kreatif. Siswa diundang untuk menyelidiki, merenung, dan menyusun pemikiran mereka sendiri.   Mempelajari keadaan siswa, mengerti kelemahan dan kelebihan siswa Dengan memahami keadaan, kelemahan dan kelebihan siswa, seorang guru dapat menyusun strategi pembelajaran yang berbeda-beda untuk memenuhi kebutuhan individu mereka. Diferensiasi pembelajaran memungkinkan guru mengajar sesuai dengan gaya belajar dan tingkat pemahaman masing-masing siswa. Mengetahui kelemahan siswa membantu guru mengidentifikasi potensi hambatan dalam pemahaman mereka terhadap materi. Dengan demikian, guru dapat merancang intervensi yang tepat untuk membantu siswa mengatasi tantangan belajar mereka. Mengetahui kelebihan siswa memungkinkan guru untuk mengoptimalkan potensi mereka. Guru dapat memberikan tugas atau proyek yang memanfaatkan keahlian dan minat khusus siswa untuk memotivasi mereka secara lebih efektif.   Mempelajari pengetahuan awal siswa Mempelajari pengetahuan awal siswa adalah penting karena memiliki dampak yang signifikan pada efektivitas pengajaran. Pengetahuan awal dapat berfungsi sebagai dasar untuk mengevaluasi efektivitas pengajaran. Guru dapat mengukur perkembangan siswa dengan membandingkan pengetahuan awal dengan pemahaman setelah pembelajaran. Mempelajari pengetahuan awal siswa memberikan dasar yang kuat untuk perencanaan pembelajaran yang lebih efektif, mendukung kebutuhan siswa secara lebih baik, dan meningkatkan peluang kesuksesan akademis mereka.   Itu tadi 5 Kebutuhan Guru dalam Mengajar yang perlu disiapkan oleh guru sebelum memulai kelasnya. Semoga bermanfaat 🙂 ===============================================================================================   Ingin mencoba fitur jurnal mengajar by AdminSekolah? Coba gratis demo-nya di demo.adminsekolah.net Atau Hubungi admin kami di wa.me/6281233640003   

Standard

Pentingnya Jurnal Mengajar dalam Teknis Pembelajaran

Jurnal mengajar merupakan salah satu perangkat pembelajaran yang wajib dimiliki oleh guru. Jurnal mengajar merupakan dokumen perangkat pembelajaran guru yang pengisiannya secara terus menerus setiap melaksanakan pembelajaran.  Sedangkan pengertian jurnal pembelajaran adalah catatan pertemuan dalam suatu kelas pembelajaran. Jurnal pembelajaran wajib diisi oleh setiap guru sebagai bukti terlaksananya suatu pembelajaran di kelas tertentu. Ini membuktikan bahwa pentingnya jurnal mengajar dalam teknis pembelajaran.   Fungsi Jurnal mengajar Jurnal mengajar memiliki fungsi penting dalam pelaksanaan pembelajaran. Pentingnya jurnal mengajar berguna untuk mencatat hal-hal terjadi dalam proses pembelajaran. Fungsi jurnal mengajar sebagai rekaman kegiatan pembelajaran, sehingga sering disebut juga sebagai jurnal reflekif guru. Melalui jurnal mengajar tersebut, guru akan dapat menganalisis jenis hambatan pembelajaran dan juga kemajuan proses pembelajaran. Jurnal mengajar juga dapat menjadi acuan atau tolok ukur kualitas penyelenggaraan pembelajaran.   Manfaat Jurnal Mengajar Adanya jurnal mengajar dapat mempermudah Bapak dan Ibu Guru dalam mengingat kegiatan belajar mengajar yang dilakukan di sekolah setiap harinya, sehingga semua kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan oleh Bapak dan Ibu Guru akan terlaksana dengan baik tanpa ada yang ketinggalan.  Tak hanya itu, berikut beberapa manfaat lainnya yang dapat Bapak dan Ibu Guru peroleh dari penyusunan jurnal kelas harian mengajar guru, yaitu:   Baca Juga: Istilah-Istilah dalam Kurikulum Merdeka yang Wajib Diketahui Pengajar  Pengembangan Soal Menggunakan Level Kognitif   – Membantu guru mencapai target tujuan pembelajaran. – Membantu guru dalam memanajemen waktu kegiatan belajar mengajar di kelas. – Meningkatkan produktivitas dan kreativitas guru. – Melatih tanggung jawab guru. – Pembahasan materi mata pelajaran jadi tersusun secara sistematis.   Penyusunan Jurnal Mengajar Dalam mengimplementasikan jurnal mengajar, ada beberapa langkah yang perlu guru lakukan. Pertama, guru perlu menyusun jurnal harian yang mencakup semua aspek pembelajaran, seperti alur tujuan pembelajaran, kegiatan pembelajaran, hasil evaluasi, dan refleksi. Guru kelas harus menyusun Jurnal secara teratur dan dan mengisi semua komponen setiap hari.   Kondisi Penyusunan dan Pengisian Jurnal Mengajar Saat Ini Nyatanya saat ini, masih banyak guru atau tenaga pendidik yang masih menggunakan jurnal mengajar secara manual. Menggunakan hasil cetak kemudian dijadikan buku jurnal. Guru perlu membawa jurnal tersebut jika perpindah dari kelas lainnya karena perlu mengabsen siswa menggunakan jurnal mengajar. Pengisian jurnal mengajar yang dilakukan secara manual pun memiliki resiko seperti mudah rusak baik tersobek, terkena air dan resiko hilang (human error). Oleh karena itu, diperlukan sebuah sistem yang membantu guru atau tenaga pendidik untuk mengisi jurnal mengajar secara mudah, meminimalkan resiko kerusakan, kehilangan, dan human error.   Solusi Jurnal Mengajar Online Dengan majunya perkembangan zaman, pengisian jurnal mengajar semakin mudah karena dibantu dengan kemajuan teknologi saat ini.  Fitur Jurnal Mengajar by AdminSekolah menjadi solusi para guru dan tenaga pendidik untuk dapat mengisi jurnal mengajar secara mudah dan dapat meminimalisir rusaknya data, hilangnya data, dan human error. Selain itu, jurnal mengajar by AdminSekolah dapat diakses melalui smartphone sehingga mudah untuk dibawa mobilitas sehari-hari.   ================================================================================================   Ingin mencoba fitur jurnal mengajar by AdminSekolah? Coba gratis demo-nya di demo.adminsekolah.net Atau Hubungi admin kami di wa.me/6281233640003 

Tim CS kami ada di sini untuk menjawab pertanyaan Anda. Tanya kami apa saja!